Diduga Korupsi Proyek Monumen Bahasa Rp12,5 Miliar, Mantan Kadisdik Kepri Ditahan

Antara ยท Selasa, 01 Oktober 2019 - 19:29 WIB
Diduga Korupsi Proyek Monumen Bahasa Rp12,5 Miliar, Mantan Kadisdik Kepri Ditahan
Ilustrasi korupsi. (Foto: Okezone)

TANJUNGPINANG, iNews.id – Polda Kepulauan Riau (Kepri) menahan mantan kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Kepri Arifin Natsir terkait dugaan korupsi proyek Monumen Bahasa Melayu di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, senilai Rp12,5 miliar. Arifin telah ditahan sejak Senin (30/9/2019).

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga di Tanjungpinang mengatakan, selain Arifin, pihaknya juga menahan dua tersangka lainnya. Keduanya, yaitu Direktur PT Sumber Tenaga Baru Yusuf dan Muhammad Yasir selaku kuasa pengguna anggaran (KPA).

“Keduanya sudah ditahan sejak sekitar seminggu yang lalu,” kata Kombes Pol Erlangga, Selasa (1/10/2019).

Erlangga mengatakan, proyek Monumen Bahasa Melayu di Pulau Penyengat dibangun pada masa Gubernur Kepri (almarhum) Muhammad Sani. Monumen itu sebagai wujud penghormatan dan penghargaan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri atas jasa-jasa Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional di bidang bahasa. Peletakan batu pertama proyek monumen itu oleh Gubernur Kepri pada Senin, 19 Agustus 2013.

Pembangunan monumen dengan 10 lantai ini berdasarkan hasil mufakat 12 kebudayaan Melayu antara Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri dan LAM Provinsi Riau pada Seminar Nasional Bahasa Indonesia di Pekanbaru pada tahun 2010. Proyek itu menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri. Saat itu, Arifin M Nasir menjabat sebagai kepala dinasnya.

“Dia yang bertanggung jawab penuh karena sebagai pengguna anggaran (PA),” ujarnya.

Rancangan pembangunan monumen meliputi tiga tahap. Pembangunan pertama pekerjaan dan pemotongan lahan yang dilanjutkan dengan pekerjaan struktur basement satu dan dua yang dialokasikan dari APBD 2013 sebesar Rp4 miliar.

Pembangunan tahap kedua dilanjutkan membangun basement hingga 10 lantai dengan atap spektrum dengan anggaran Rp8 miliar. Tahap ketiga pembangunan dilanjutkan pemasangan elektrikal, sanitasi, landscape, jalan lingkungan, serta pencahayaan dengan anggaran sebesar Rp4 miliar.

Total anggaran pembangunan gedung dengan ornamen huruf Arab alif bernilai Rp16 miliar. Namun, dalam pelaksanaannya, pembangunan monumen bersejarah ini mangkrak. Laporan hasil audit Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Kepri pada 2015 menemukan pekerjaan monumen itu telah dikorupsi.


Editor : Maria Christina